
Jakarta, 23 April 2026
Sebagai tindak lanjut dari berbagai pertemuan sebelumnya dan berikut saling korespondensi dan satu sama lain sejak pertemuan awal pada tanggal 28 Pebruari 2023 di kantor IADO, pada tanggal 23 April 2026 Pimpinan IADO kembali mengadakan pertemun dengan jajaran Pimpinan Labkesda (Laboratorium Kesehatan Daerah) DKI yang dipimpin langsung kepalanya dr. Budi Wibowo. Pertemuan pada tanggal 23 April 2026 tersebut sudah tidak lagi membahas hal-hal yang bersifat mendasar bagi rencana Labkesda DKI untuk membangun laboratorium ABP. Sebagaimana diketahui, atas dasar pertimbangan, bahwa jaringan laboratorium terakreditasi WADA saat ini mungkin terbatas secara geografis untuk sepenuhnya melayani pengembangan praktis Paspor Biologis Atlet (ABP), khususnya untuk beberapa wilayah di dunia, WADA pada tahun 2010 menyetujui kriteria untuk menyetujui laboratorium yang tidak terakreditasi WADA (misalnya, laboratorium klinis, forensik) untuk analisis darah dalam mendukung Paspor Biologis Atlet.
Beberapa tahun lalu awalnya Labkesda DKI bermaksud berencana membangun suatu laboratorium anti-doping yang diakreditasi WADA di Jakarta dan IADO sepenuhnya menghargai niatan tersebut sesuai aturan World Anti-Doping Code dan Standar Internasional untuk Laboratorium. Akan tetapi atas dasar persyaratan yang sangat ketat yang diatur pada Standard Internasional tentang Laboratorium, sehingga rencana seperti itu belum menjadi prioritas dalam waktu dekat ini. Sebagai contoh, Pasal 4.1.3 yang mengatur tentang Ketentuan Surat Dukungan disebutkan antara lain: ……Surat dukungan seperti itu harus menunjukkan adanya suatu komitmen Laboratorium terkait yang harus mampu minimun melakukan analisa terhadap 3.000 Sampel per tahun mulai tahun kedua setelah memperoleh akreditasi dari WADA……Sebagai data komparasi, IADO telah hanya mengumpulkan sampel rata-rata sekitar 500 sampel setiap tahun sejak tahun 2022 kecuali tahun 2024 mencapai 1.365 sampel karena adanya PON dan PEPARNAS 2024. Namun demikian, kemudian terjun bebas di tahun 2025, yang hanya dapat mengambil sebanyak 574 sampel karena keterbatasan anggaran dari pemerintah.
Menyadari tingginya tingkat kesulitan dalam persyaratannya, Labkesda DKI cenderung memiliki rencana pembangunan Laboratorium ABP, yang nantinya untuk jangka panjang tetap mengarah pada Laboratorium yang terakreditasi WADA, mengingat saat ini seluruh sampel pengujian doping dari Indonesia selalu dikirimkan ke Bangkok dan itu berdampak pada biaya yang tinggi. Sejauh ini hampir seluruh persyaratan yang diajukan Labkesda DKI ke WADA sudah terpenuhi (termasuk surat rekomendasi dari IADO). Namun demikian, masih ada persyaratan-persyaratan tertentu yang belum terpenuhi, termasuk pembayaran premi asuransi dan lain-lain. Ini belum terhitung dengan rencana WADA untuk melakukan inspeksi langsung beberapa kali ke Labkesda DKI. Karena proses pengajuan sudah cukup lama dan menyadari bahwa peralatan dan ketersediaan SDM yang dimiliki Labkesda DKI sudah setara kualitasnya dengan sejumlah labnoratorium kesehatan di beberapa negara, maka IADO memutuskan untuk melakukan percepatan dalam membantu upaya Labkesda DKI tersebut.